Archive for March, 2009

Posted in Uncategorized on March 28, 2009 by apayangkurang

Oh Bulan..
Enggan melayan diriku lagi
Pabila airmata membasahi pipi
Dan lagu lagu di radio seolah olah memerli aku
Pabila kau bersama yang lain

Adakah perasaan benci ini sebenarnya cinta
Yang masih bersemadi untukmu
Dan sebenarnya ku mengharapkan di sebalik senyumanmu itu
Kau juga menyintai aku

Ku enggan berpura pura ku bahagia
Ku enggan melihat kau bersama si dia
Oh ku akui cemburu
Mula menular dalam diri
Pabila kau bersama yang lain

Adakah perasaaan benci ini sebenarnya cinta
Yang masih bersemadi untukmu
Dan sebenarya ku mengharapkan
Di sebalik senyuman mu itu
Kau juga merindui aku

Pabila kau merenung matanya
Ku rebah jatuh ke bumi
Di saat kau benar-benar mahu pergi
Seperti ku bernafas dalam air

Adakah perasaaan benci ini sebenarnya cinta
Yang masih.. bersemadi untukmu
Dan sebenarya ku mengharapkan
Di sebalik senyuman mu itu
Kau juga merindui aku

Oh…

Dan Sebenarnya ..
Dan Sebenarnya ..
Aku rindu ..

Dan Sebenarnya ..
Dan Sebenarnya ..
Aku tak mampu .. tanpamu..

malam ini…

Posted in Uncategorized on March 25, 2009 by apayangkurang

malam ini ak menangis…

menangis untuk satu perkara yang tak pasti

menangis bukan kerana pa

kerana diriku yang lemah ini

diriku

yang terlalu menginginkan sesuatu

diriku

yang hina

sehingga sanggup menjilat apa-apa

tomahan

cacian

gelak ketawa

atau apa-apa

demi mencapai keinginan diri

Tuhanku…

hamba-Mu melutut padamu

dengan rasa hina dan jijik

pada diri sendiri

rasa malu

terhadap perbuatan hamba-Mu ini

akan tetapi Tuhanku

ampunilah dosaku

terimalah permintaanku

aku tidak punya bicara

aku tidak punya cinta

akan tapi Tuhanku

hamba-Mu ini

amat menagih

hidayah dan inayah dariMu

rahmatMu dan keberkatanMu

kasihMu dan cintaMu

walaupun

tidak setimpal

sayang yang ku tunjuk padaMu

ini terlalu berat untuk ku terima

walaupun ada rancanganMu padaku

ku mohon

permudahkan lah

urusanku

tunjukan lah

jalanku

dan terangkanlah

gelapku

kerna

aku  sesat!!!

sesat Ya Allah

dalam cubaanMu

dalam mainanMu

dalam percaturanMu

ak keliru

yang mana intan

yang mana kaca

ak tidak mahu tersilap langkah

kuatkan lah

hatiku

teguhkanlah

imanku

bersihkanlah

fikiranku

sebagaimana yang Kau hendaki

jika itulah jalannya

aku akan berjalan

sendirian

menrentasi lakonan-lakonan manusia

di pentas yang Maha ini

yang Kau ciptakan

supaya aku mengenal

siapa Tuan di sebalik ini

mana kiblat di laluan ini

dan apa peganganku selama ini

Tuhan…

hambaMu memohon sembah

kentalkanlah semangatku

agar ku jumpa

damai abadi….

terpikir…

Posted in Uncategorized on March 25, 2009 by apayangkurang

Terasa sakitnya hatiku
Bila ku melihat dia
Duduk tertawa bersama lelaki yang mendekatimu

Tapi ku rasa serba salah
Bila kau tak memahamiku
Oh Tuhanku, tolonglah buka pintu hatinya

Hanya kau yang selalu bermain dihatiku
Ku terbayang wajahmu selalu

Tolonglah diriku
Yang memerlukanmu
Tok selalu menemaniku
Tak sanggup untuk menunggumu
Terimalah ku seadanya

Tak pernah kuberputus asa
Cintaku kan kembali semula
Akan kudapatkan semula cintaku
Kerna dia bidadariku

Hanya kau yang selalu bermain dihatiku
Ku terbayang wajahmu selalu

Tolonglah diriku yang memerklukanmu
Tuk selalu menemaniku
Tak sanggup untuk menunggumu
Terimalah ku seadanya

Tak bisa tok melupakan dirimu bidadariku
Terimalah cintaku padamu, bidadariku

perasaan ini…

Posted in Uncategorized on March 25, 2009 by apayangkurang

apakah sebenarnya perasaan ini

melihatnya membuatkan hati sakit

mendengarnya menghangatkan telinga yang capang ini…

mengetahuinya meruntuhkan kerasnya(keras ke???) tulang temulang ku ni…

akan tetapi…

mengatakan ak tidak berasa apa

ak tidak punya rasa padanya

meluluhkan hatiku

ramai berkata

sabar

kenapa

tidak perlu

dan menggelakkan

akan tetapi

minda ku telah tertangkap

perasaan ini

ak hanya perlu berdoa

betawakal

dan beriktihar

agar perasaan ini

tidak dinyalangkan

begitu sahaja

tanpa balasan yang mencukupi…

Posted in Uncategorized on March 24, 2009 by apayangkurang

jikustik-puisi

refleks sejenak…

Posted in Uncategorized on March 22, 2009 by apayangkurang

Aku memandang nyalang, pada manusia lalu lalang
Kulihat, tanpa sedikitpun segan, mereka menggamitkan jemari tangan
Kata cinta menguar di angkasa, menghayutkan gemawan mega
Mangaburkan keindahan bintang gemintang, panji dan agungnya bentara
Namun di sini, berdiri aku dalam keraguan
Tak mengerti dan terus bertanya :
Apakah segalon cinta lebih manis ketimbang sececap cita?
Dan apakah bahagia terwujudi harus dengan dimiliki?
Dan apakah seorang pangeran hanya dapat menjadi raja,
Pabila mempersandingkan permaisuri di sisinya?

Dan tanya itu menggiringku masuk ke dalam labirin tua
Lorong pekat penuh lembap yang dindingnya berkeropeng dusta
Penuh tipu daya, tiap simpangannya menyesatkan pengelana
Aku ikuti setitik cahya, dan kulihat jawab di ujungnya

Aku bertanya lantang, “Wahai, apakah itu cinta?”
Kulihat sepasang muda-mudi bergelayutan mesra
Sang gadis tertawa mengikik, sang pemuda menggeliat laknat
Sahutnya, cinta adalah hari ini
Yang tergantikan segera oleh hari esok
Dia adalah kesenangan yang berkelindan selalu
Birahi yang terpuaskan, nikmat yang berseliweran
Aku tercenung, dan terus termenung
Jika cinta adalah pesta pora, lalu apa arti cerita Majnun
Cinta baginya adalah kisaran derita
Tetapi Majnun hanya tahu itu cinta, walau dia buta
Oh, betapa takdir cintanya berakhir nestapa

Aku berpaling dari mereka yang mencemooh nakal
Lalu aku pergi menuju ujung lain lorong teka-teki
Kuikuti suara-suara merdu, tawa, dan musik syahdu
Walau gelap pekat, suara itu menuntunku pasti
Dan akhirnya kulihat panggung megah berdiri kokoh
Dipenuhi penyair dan pujangga sepanjang masa

Dadaku serasa bergolak, aku menyeruak dan berteriak, “Wahai apakah itu cinta?”
Seorang pujangga menoleh, berdiri, dan menjawab panggilanku lalu mulai bersyair,
Cinta adalah roman tanpa batas
Inspirasi yang takkan mati; Api yang takkan padam
Yang geloranya membuatmu remuk redam
Tapi, bagai kecanduan, kau akan terus menyesapnya
Membuatmu merasa terbang menuju menuju mentari yang menyala perkasa
Sekali lagi, keraguan menyelinap dan membisik
Mestikah begitu, sebab kulihat nyala sangat redup
Menyambangi jalinan pernikahan yang suci
Gairah sejoli telah berakhir, tapi tidak memupus ikatannya
Tapi mereka masih menyebutnya cinta
Walau madunya telah habis, Sang kumbang masih hinggap di atas kembang

Aku melengos tak puas, dan berjalan tak tahu ke mana
Kususuri lorong berliku, begitu panjang jalanan, begitu terjal undakan
Dan pada satu tangganya, kulihat seorang pengemis renta mengharap derma
Dia berkata, “berikanlah milikmu yang terbaik, dan kusampaikan kebijaksanaanku”
Aku sebenarnya tak ingin percaya, tapi kakiku terlalu letih mencari jawab
Kuulurkan sebongkah batu mirah sembari bertanya, “Wahai, apakah itu cinta?”

Si pengemis diam dalam takzim, dan menjawab,
Cinta adalah menghamba tanpa bertanya
Ketaatan tanpa memerlukan jawaban
Kau memuja, dan menjadikan dirimu budak dengan sukarela
Kata-kata cinta adalah perintah yang tiada terbantah
Aku terpekur dan tak henti berpikir
Jika cinta merupakan penghambaan, lalu apa arti cinta Ilahi?
Dia yang menurunkan hujan, dan lebih agung dari apapun jua
Dia yang memberikan rizki kepada orang paling durjana sekalipun
Dia yang mencintai makhluk-Nya, dan tak memerlukan apapun dari makhluk-Nya

Aku merasa rugi atas permata yang terbuang percuma
Ini bukanlah kebijaksanaan; melainkan kedunguan!
Cinta si pengemis selamanya menjadikan dirinya pengemis
Yang mengiba, meminta, dan mengharap sejumput kasih
Jika ini dinamakan cinta, maka terkutuklah kata cinta!
Aku muak atas pencarian ini, lalu memutuskan keluar
Labirin tua tak lagi mengurungku, dan bau laut seakan memanggilku
Ini adalah aroma kebebasan yang menarik para pemberani
Dan seperti cerita lama, aku berlayar menuju samudera berombak, –sendiri
Angin kencang membantu lajuku, dan kapalku menuju horizon di tapal batas
Mencari dunia baru untuk ditaklukkan
Di ujung dek aku berteriak penuh kegembiraan
Walau kegembiraan itu kadang dibayar oleh rasa hampa di tengah lautan
Oh, tahun-tahun berselang; musim-musim berganti datang
Waktu-penuh-kenangan yang berkandung duka dan suka
Namun, pada suatu hari yang mengejutkan
Badai datang menenggelamkan apa yang tersisa
Aku lihat puing-puing yang karam, dan onggokan
Sementara aku hanyut ditemani tongkang yang terombang-ambing
Entah mengantarkanku ke mana

Di suatu tempat, saat aku membuka mataku
Aku rasai pasir lembut yang harum baunya
Dan riak ombak bermain-main di sekujur tubuhku
Apakah ini tanah orang- orang mati, ataukah aku masih hidup?
Oh, betapa hausnya aku…seteguk air akan mengobatiku
Dan, aku lihat sesosok datang mendekat
Sorot matanya menatapku lekat
Lalu menuangkan seteguk air pada bibirku yang kekeringan sangat
Pandanganku terasa kabur, dan dunia terasa berputar begitu cepat
Aku berharap dia adalah malaikat tak bersayap yang memberikan jawab
Aku merasa maut sebentar lagi menjemput,
Jadi tak ada salahnya bertanya, toh rasa malu akan terbawa lalu
Setelah sekian lama, sekali lagi aku bertanya, “Wahai, apakah itu cinta?”

Dia termangu,dan hanya tersenyum
Untuk menenangkan jiwaku yang sekarat, dia menatapku lembut
Dan kata-kata bagai menetes dari mulutnya
Kata-kata serasa madu yang manisnya teringat selalu, Jawabnya :
Cinta bukanlah benda untuk dimiliki
Tetapi tindakan untuk diperjuangkan
Cinta adalah kebaikan tanpa imbalan
Pernahkah mentari bertanya padamu atas sinarnya yang terang
Dan pernahkah pepohonan meminta jawaban atas keteduhannya
Jika kau memberikan segelas air pada orang asing,
Dan dia tak berhutang padamu apapun
Itulah cinta.
Bagaikan petani, kau menanam benihnya
Lalu orang lain memakan buahnya, menghilangkan rasa laparnya
Tetap ingatlah, cinta adalah pilihan hatimu
Bukan keterpaksaan dari rasa takut
Sebab cinta tidak pernah membuatmu merasa kehilangan
Dia terus membuat hatimu merasa kaya
Namun, sungguh dunia telah tercerai berai,
Dan manusia menjadi tersesat oleh makna cinta
Tergelincir keserakahan, cinta menjadi memabukkan
Untuk memiliki, bukannya memberikan
Untuk menguasai, bukannya mengasihi
Jika cinta tinggallah nafsu diri belaka
Yang tersisa hanyalah kerusakan semata
Tiada peduli sesama; Semuanya mengagungkan diri jua
Orang menamakannya cinta; tapi itu hanyalah dusta

Hari itu, aku tahu
Bahwa perjalananku bukannya berakhir,
Tetapi baru saja dimulai

Lalu aku mengatup mata
Dan mulai mendoa
Untuk satu pilihan kata di hati.

tima kasih kepada seorang penyajak indonesia…yg x taw sape name nye pon…copy paste jerrr

Posted in Uncategorized on March 22, 2009 by apayangkurang

Two men, both seriously ill, occupied the same hospital room. One man  was allowed to sit up in his bed for an hour a day to drain the fluids from his lungs. His bed was next to the room’s only window. The other man had to spend all his time flat on his back.

The men talked for hours on end. They spoke of their wives and   families, their homes, their jobs, their involvement in the military  service, where they had been on vacation. And every afternoon when the  man in the bed next to the window could sit up, he would pass the time by describing to his roommate all the things he could see outside the window.

The man in the other bed would live for those one-hour periods where  his world would be broadened and enlivened by all the activity and  color of the outside world. The window overlooked a park with a lovely lake, the man had said. Ducks and swans played on the water while  children sailed their model boats. Lovers walked arm in arm amid flowers of every color of the rainbow. Grand old trees graced the landscape, and a fine view of the city skyline could be seen in the distance. As the man by the window described all this in exquisite  detail, the man on the other side of the room would close his eyes and imagine the picturesque scene.

One warm afternoon the man by the window described a parade passing by.  Although the other man could not hear the band, he could see it in his mind’s eye as the gentleman by the window portrayed it with descriptive  words. Unexpectedly, an alien thought entered his head: Why should he have all the pleasure of seeing everything while I never get to see  anything? It didn’t seem fair. As the thought fermented, the man felt  ashamed at first. But as the days passed and he missed seeing more sights, his envy eroded into resentment and soon turned him sour. He   began to brood and found himself unable to sleep. He should be by that  window – and that thought now controlled his life.

Late one night, as he lay staring at the ceiling, the man by the window  began to cough. He was choking on the fluid in his lungs. The other man   watched in the dimly lit room as the struggling man by the window groped for the button to call for help. Listening from across the room, he never moved, never pushed his own button which would have brought the nurse running. In less than five minutes, the coughing and choking  stopped, along with the sound of breathing. Now, there was only silence–deathly silence.

The following morning, the day nurse arrived to bring water for their baths. When she found the lifeless body of the man by the window, she was saddened and called the hospital attendant to take it away–no  words, no fuss. As soon as it seemed appropriate, the man asked if he  could be moved next to the window. The nurse was happy to make the switch and after making sure he was comfortable, she left him alone.

Slowly, painfully, he propped himself up on one elbow to take his   first look. Finally, he would have the joy of seeing it all himself. He strained to slowly turn to look out the window beside the bed. It faced a blank wall….

The pursuit of happiness is a matter of choice…it is a positive attitude we consciously choose to express. It is not a gift that gets delivered to our doorstep each morning, nor does it come through the window. And I am certain that our circumstances are just a small part of what makes us joyful. If we wait for them to get just right, we will never find lasting joy.

The pursuit of happiness is an inward journey. Our minds are like   programs, awaiting the code that will determine behaviors; like bank vaults awaiting our deposits. If we regularly deposit positive, encouraging, and uplifting thoughts, if we continue to bite our lips  just before we begin to grumble and complain, if we shoot down that seemingly harmless negative thought as it germinates, we will find that there is much to rejoice about.

stop for being irresponsible for things that you get just beacause you are unhappy with things that you have…

inadequacy is not a reason for not being happy…it is a reason for us to chase over happiness

look around you…there are a lot more people searching for their own happiness, with their own way and their own perspective of happiness

dont be like the other man who kill the man next to the window just because he is jealous with what the man got before…it may kill your happiness too….


jangan koyak2 kimi….